Selasa, 06 Januari 2015
KEDWIBAHASAAN DAN DIGLOSIA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makhluk hidup berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan media. Salah satu media komunikasi adalah bahasa. Sebagai pengguna bahasa sebagai alat komunikasi, manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi terjadinya komunikasi sehingga proses komunikasi berjalan baik dan tujuan komunikasi tercapai. Dengan demikian pemilihan bahasa sangat menentukan keberhasilan sebuah proses komunikasi.
Bahasa dapat didefinisikan sebagai lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 1984:19). Sedangkan Lyons (dalam Aslinda dan Leni, 2010:1), bahwa bahasa adalah most of them hare taken the view that languages are system of symbols, designed, as it were, for the purpose of communications. Dengan demikian bahasa ditandai dengan bunyi dan lambang serta digunakan untuk berkomunikasi.
Antara bunyi dan lambang yang digunakan dalam komunikasi, maka keduanya harus dipahami oleh masyarakat yang sedang berkomunikasi. Oleh karena itu bahasa juga bersifat konvensional. Dengan pemahaman yang sama tentang bahasa antarmasyarakat maka hambatan dalam komunikasi dapat dihindari.
Sekelompok masyarakat tidak sama dengan sekelompok masyarakat yang lain. Bahkan setiap individu dalam satu kelompok juga memiliki perbedaan. Dengan perbadaan antarindividu dan antarkelompok masyarakat, maka pemilihan bahasa dengan melihat individu atau kelompok masyarakat tertentu sangat penting. Masyarakat perlu memahami masyarakat lain dan bahasa yang digunakan masyarakat tersebut. Kajian ini akan dibahas dalam sosiolinguistik.
Sosiolinguistik berasal dari kata sosiologi dan linguistik. Sosiologi menurut Chaer dan Agustin (dalam Aslinda dan Leni, 2010: 6) adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat dan mengenai lembaga-lembaga serta proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah ilmu bahasa atau bidang yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian sosiolinguistik merupakan bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat.
Mansoer Pateda mengutip beberapa pendapat tentang sosiolinguistik antara lain pendapat Fishman yang menyatakan sosiolinguistik lazim didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari ciri dari pelbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara bahasawan dengan ciri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa. Sedangkan C. Criper dan H.G. Widdowson mengatakan sosiolinguistik adalah studi bahasa dalam pelaksanaannya yang bermaksud mempelajari bagaimana konvensi bahasa berhubungan dengan aspek-aspek lain dari tingkah laku sosial (1987:2)
Di dalam masyarakat, pengguna bahasa disebut masyarakat bahasa. Masyarakat bahasa sering berkomunikasi dengan menggunakan lebih dari satu jenis bahasa (dua bahasa atau lebih). Walaupun menggunakan banyak bahasa, anggota masyarakat bahasa mempunyai bahasa pertama kemudian mempelajari dan menggunakan bahasa kedua, bahasa ketiga, dan seterusnya.
1.2 Rumusan Masalah
Masyarakat bahasa yang menggunakan banyak bahasa dan memiliki satu bahasa pertama secara umum memunculkan istilah kedwibahasaan dan diglosia. Rumusan masalah dalam makalah ini adalah “ Apa yang dimaksud kedwibahasaan dan diglosia serta bagaimana mereka berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari?”
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengguna bahasa yang dikategorikan sebagai dwibahasawan dan diglosia serta penerapannya dalam berkomunikasi sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kedwibahasaan
Kedwibahasaan dapat diurai menjadi konfiks ke-an dan frasa dwi bahasa. Dwi bahasa mengandung arti dua bahasa. Sedangkan konfiks ke-an membentuk kata keadaan. Pengertian kedwibahasaan menurut Harimurti Kridalaksana adalah penggunaan dua bahasa atau lebih oleh seseorang atau oleh suatu masyarakat. Kedwibahasaan disebut juga bilingualisme (1984:29). Selanjutnya Harimurti menguraikan kedwibahasaan/bilingualisme dalam tiga macam yaitu (1) bilingualisme koordinat (co-ordinate bilingualism) yaitu dengan bilingualisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang terpisah, (2) bilingualisme majemuk (compound bilingualism) yaitu bilingualisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang terpadu, (3) bilingualisme subordinat ( sub-ordinate bilingualism) yaitu bilingulisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang terpisah tetapi masih terdengar proses penterjemahan.
Menurut Weinreich (dalam Aslinda dan Leni, 2010:23) kedwibahasaan adalah the pratice of alternately using two languages (kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian). Sedangkan menurut Blommfield, kedwibahasaan adalah native like control of two languages (penguasaan yang sama baiknya terhadap dua bahasa). Sementara menutur Mackey kedwibahasaan adalah the alternative use of two of more languages by the some individual (kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang).
Kedwibahasaan merupakan ciri seseorang atau kelompok masyarakat. Dengan mengetahui ciri penggunaan bahasa oleh seseorang atau kelompok masyarakat, kita akan mengetahui status sosial mereka.
Kontak bahasa akan terjadi pada masyarakat pemakai bahasa atau terjadi dalam situasi kemasyarakatan tempat seseorang mempelajari unsur-unsur sistem bahasanya sendiri. Ciri utama kontak bahasa adalah terdapatnya kedwibahasaan/bilingualisme. Kedwibahasaan lebih cenderung pada gelaja tutur (parole) sedangkan kontak bahasa lebih cenderung pada gejala bahasa (langue). Pada prinsipnya, langue adalah sumber dari parole, maka dengan sendirinya kontak bahasa akan tampak dalam kedwibahasaan, Dengan kata lain, kedwibahasaan terjadi karena adanya kontak bahasa (Aslinda dan Leni, 2010:25).
Dwibahasawan adalah orang menggunakan dua bahasa atau lebih untuk berkomunikasi. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang menggunakan dua bahasa atau lebih dalam berkomunikasi. Dengan demikian maasyarakat Indonesia disebut dwibahasawan (bilingual). Penggunaan dua bahasa atau lebih itu dilakukan secara bergantian. Tingkat penguasaan bahasa dwibahasawan yang satu tidak sama dengan dwibahasawan yang lain, tergantung pada setiap individu yang mempergunakannya. Perubahan bahasa terjadi pada saat kontak bahasa. Seorang dwibahasawan dapat menggunakan bahasa pertama kemudian beralih ke bahasa kedua atau sebaliknya. Misalnya seorang dwibahasawan semula menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu, di tengah proses komunikasi ia beralih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua.
2.2 Diglosia
Diglosia dalam Kamus Linguistik didefinisikan sebagai situasi bahasa dengan pembagian fungsional atau variasi-variasi bahasa yang ada. Satu variasi diberi status “tinggi” dan dipakai untuk penggunaan resmi atau penggunaan publik dan mempunyai ciri-ciri yang lebih kompleks dan konservatif, variasi lain mempunyai status “rendah” dan dipergunkan untuk komunikasi tak resmi dan strukturnya disesuaikan dengan saluran komunikasi lisan. (Harimurti, 1984:41). Sementara Furgeson dalam Aslinda dan Leni (2010:27) mengungkapkan konsep diglosia adalah para penutur suatu bahasa memakai suatu ragam tertentu dalam situasi tertentu dan memakai ragam lain dalam situasi lain, kemudian memakai suatu situasi yang di dalamnya ada dua ragam dari suatu bahasa hidup berdampingan dengan peran masing-masing dalam masyarakat. Lebih lanjut, Furgeson menjelaskan diglosia itu terdiri atas sembilan segi , yaitu sebagai berikut.
1. Fungsi
2. Prestise
3. Warisan tradisi tulis-menulis
4. Pemerolehan bahasa
5. Pembakuan
6. Stabilitas
7. Tata bahasa
8. Kosa kata
9. Fonologi
Konsep diglosia Ferguson, kemudian dikembangkan oleh Fishman yang mengatakan, perbedaan antara dwibahasawan dan diglosia yaitu kedwibahasaan (bilingualime) mengacu pada penguasaan atas ragan H (ragam tinggi) dan ragam L (ragam rendah) yang ada dalam masyarakat sedangkan diglosia mengacu pada persebaran (distribusi) fungsi H dan L dalam ranah-ranah tertentu. Tidak selamanya kedwibahasaan itu dibarengi dengan diglosia, sebagaimana tampak dalam matriks berikut ini.
+, 1. Diglossia and bilingualism -, 2. Diglossia without bilingualism
-, 3. Bilingualism without diglossia -, 4. Neither diglossia nor bilingualis
Fisman dalam Aslinda dan Leni (2010:28)
Selanjutnya Aslinda dan Leni memberi penjelasan bahwa matriks ini dibaca sebagai berikut.
1. Diglosia dan bilingualisme
Adanya dua bentuk bahasa dalam masyarakat. Distribusi yang stabil atau tetap dari variasi-variasi bahasa sesuai funsi sosialnya.
2. Diglosia tanpa bilingualisme
Dalam masyarakat bahasa , terdapat perbedaan fungsional yang ketat dari ragam-ragam bahasa sesuai dengan H dan L. Dalam kasus ini, adalah perilaku antarkerlompok dari kekuatan yang berkuasa (ragam H), yang bukan hanya hidup jauh dari orang-orang biasa, melainkan sengaja membedakan bahasa mereka dari banyak orang. Kasus ini sering ditemukan dalam masyarakat yang pernah dijajah.
3. Bilingualisme tanpa diglosia
Diglosia ditandai dengam distribusi fungsi sosial yang bervariasi sesuai dengan suasana individu ataupun sosial. Jadi bilingualism bervariasi sesuai dengan situasi, peran, topik, dan tujuan komunikasi. Dengan demikian, dalam masyarakat banyak ditemukankasus bilingualisme tanpa diglosia. Situasi seperti ini tidaklah stabil, tetapi brgantung pada perubahan sebagai akibat adanya korelasi dengan parameter-parameter social yang sangat variasi, misalnya pemukiman kembali dan perpindahan pekerjaan.
4. Tanpa bilingualisme dan diglosia
Jenis ini terdapat pada masyarakat yang terisolasi. Masyarakat yang tidak berhubungan dengan dunia luar. Menurut Fisman, jenis ini jarang ditemukan
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Kedwibahasaan (bilingualisme) adalan situasi di mana seorang pengguna bahasa berkomunikasi dengan menggunakan dua bahasa atau lebih. Bahasa yang digunakan adalan bahasa pertama dan bahasa kedua. Penggunaan dua bahasa disesuaikan dengan lawan bicara sehingga keduanya dapat memahami maksud komunikasi tetrsebut. Dwibahasawan (bilingual) adalah orang yang menggunakan dua bahasa atau lebih dalam berkomunikasi. Seorang dwibahasawan dapat menggunakan bahasa pertama kemudia beralih ke bahasa kedua atau sebaliknya. Kondisi ini disebut diglosia.
3.2 Saran
Situasi komunikasi memicu seseorang untuk berlaku sebagai dwibahasawan. Gunakan bahasa sesuai situasi dan kondisi sehingga proses komunikasi dapat berjalan dengan baik dan tujuan komunikasi tercapai. Dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar kita akan mampu menempatkan diri kita (penutur) dan lawan bicara (petutur) sesuai status sosialnya sehingga keharmonisan komunikasi dapat tercipta.
DAFTAR PUSTAKA
Aslinda dan Leni Syafyahya. 2010. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Reifika Aditama
Kridalaksana, Harimurti. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia
Pateda, Mansoer. Sosiolinguistik. Bandung:Angkasa
Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguitics. New York: Katerprint Co.Ltd,Oxford
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar