Selasa, 06 Januari 2015

BAHASA, DIALEK, DAN VARIASI

RINGKASA BAHASA, DIALEK, DAN VARIASI 1.Bahasa Pada hakekatnya bahasa adalah sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, prodiktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh komponen-komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Namun sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis, juga bersifat sistemis. Dengan sistematis maksudnya, bahasa itu tersusun menurut pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis artinya sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsitem leksikon. Sistem lambang yang dibicarakan di atas adalah berupa lambang dalam bentuk bunyi, makna, dan konsep. Lambang bunyi bahasa bersifat arbitrer, artinya hubungan antara lambang dan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang-lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Lambang juga bersifat konvensional, artinya setiap penutur bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan. Bahasa bersifat produktif. Dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran-ujaran yang hampir tidak terbatas. Bahasa bersifat dinamis, maksudnya selalu berubah-ubah sesuai kurun waktu dan kejadian-kejadian pada waktu itu. Bahasa bersifat beragam artinya jumlah pengguna bahasa sangat heterogen. Bahasa bersita manusiawi artinya bahasa sebagai alat komunikasi yang verbal hanya dimiliki oleh manusia. Dalam konsep sosiolinguistik, bahasa adalah alat, berfungsi untuk menyampaikan pikiran, lebih luasnya (Fisman: 1973) fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. Dari sudut penutur, bahasa bersifat pribadi, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Dari sudut pendengar, bahasa bersifat rediktif (mengatur tingkah laku pendengar) yaitu si pendengar melakukan kegiatan sesuai dengan yang dimaui si pembicara. Dilihat dari sudut pandang topik ujaran, bahasa sebagai refsensial maksudnya untuk membicarakan objek peristiwa yang terjadi di sekeliling penutur. Bahasa dari kode yang digunakan berfungsi metalinguistik, yakni bahasa digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri, seperti masalah ekonomi, politik, dan sebagainya. Bahasa dari segi amanat, untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan; baik yang sebenarnya atau yang sekadar imajinasi. Komunikasi adalah proses pertukaran informasi antara individu melalui simbol, tanda, atau tingkah laku yang umum. Ada tiga komponen yang harus ada dalam komunikasi yaitu: pihak yang berkomunikasi, informasi yang disampaikan, dan receiver (penerima informasi). Informasi biasanya berupa ide, gagasan, keterangan dan sebagainya. Alat yang digunakan bisa berupa gambar, petunjuk, juga bisa gerak tubuh (kinesik). Dalam komunikasi bahasa, terdapat dua macam komunikasi; komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Sebagai alat komunikasi, bahasa terdiri dari dua aspek yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya semantik (makna, gagasan, ide, konsep). Adapun nonlinguistik mencakup; (1) kualitas ujaran seperti falsetto (suara tinggi), staccato (suara terputus-putus); (2) ujaran supra segmental yaitu tekanan (stres), nada (pitch) dan intonasi, (3) jarak dan gerak-gerik tubuh, (4) rabaan, yang berkenaan dengan indra perasa. Sebagai manusia, tentu kita berbeda dengan hewan dari berbagai aspek, walaupun mempunyai kesamaan yaitu mengeluarkan bunyi. Keistimewaan manusia, antara lain sebagai berikut. 1.Bahasa itu menggunakan jalur vocal auditif. 2.Partisipan dalam komunikasi bahasa dapat saling berkomunikasi. 3.Lambang bahasa itu terjadi umpan balik yang lengkap. 4.lambang-lambang bunyi dalam komunikasi bahasa adalah bermakna atau merujuk pada hal-hal tertentu. 5.Hubungan antara lambang bahasa dan maknanya bukan ditentukan oleh adanya suatu ikatan antara keduanya, tetapi ditentukan oleh suatu persetujuan atau konvensi di antara penutur suatu bahasa. 6.Bahasa sebagai alat komunikasi manusia dapat dipisahkan menjadi unit satuan-satuan, yakni kalimat, kata, morfem, dan fonem. 7.Kepandaian dan kemahiran untuk menguasai aturan dan kebiasaan berbahasa manusia diperoleh dari belajar, bukan melalui gen-gen yang dibawa sejak lahir. 8.Bahasa dapat digunakan untuk menyatakan yang benar atau tidak benar, atau yang tidak bermakna secara logika. 2.Dialek Beberapa pengertian tentang dilaek antara lain: 1.Menurut Aslinda dan Leni (2010:7) Dialek merupakan ciri khas sekelompok individu/masyarakat dalam menggunakan bahasa. Bahasa seseorang atau ciri khas yang dimiliki oleh seorang individu dalam menggunakan bahasa disebut idiolek. Dialek dibedakan atas dua bagian yaitu dialek geografi dan dialek sosial. Dialek geografi adalah persamaan bahasa yang disebabkan oleh letak geografi yang berdekatan sehingga memungkinkan komunikasi yang sering antara penutur-penutur idiolek itu. Dialek sosial adalah pesamaan yang disebabkan oleh kedekatan sosial, yaitu penutur-penutur idiolek itu termasuk dalam satu golongan masyarakat yang sama. 2.Abdul Hamid Mahmood dalam makalahnya menjelaskan dialek sebagai variasi daripada satu bahasa tertentu yang dituturkan oleh sekumpulan penutur dalam satu-satu masyarakat bahasa. Dialek mempunyai bentuk tertentu yang dituturkan dalam kawasan tertentu dan berlainan daripada bentuk bahasa baku, baik dari segi sebutan, tata bahasa ataupun penggunaan kata-kata tertentu. Kelainan tersebut tidaklah begitu besar untuk dianggap sebagai satu bahasa yang lain. 3.Variasi Variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya. Variasi bahasa atau ragam bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan di dalam masyarakat sosial. Chaer dan Agustin (dalan Aslinda dan Leni, 2010:16) membedakan variasi bahasa dapat dilihat dari segi penutur, pemakaian, keformalan, dan sarana. 1.Variasi Bahasa dari Segi Penutur Variasi bahasa dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan variasi bahasa dari sekelompok individu yang jumlahnya relatif dan berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Variasi bahasa yang bersifat individu disebut idealek, sedangkan variasi bahasa dari sekelompok individu disebut dialek. Dialek dibagi dua, yaitu dialek geografis dan dialek sosial atau sosiolek. Dialek geografis adalah dialek berdasarkan wilayah, sedangkan dialek sosial adalah dialek berdasarkan tingkat, status, golongan, dan kelas sosial. Dialek sosial terdiri atas akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. a.Akrolek adalah variasi bahasa yang dianggap lebih tinggi atau bergengsi daripada variasi sosial lainnya. b.Basilek adalah variasi bahasa yang dianggap kurang bergengsi, bahkan dipandang rendah. Contoh “krama ndeso”. c.Vulgar adalah variasi bahasa yang digunakan oleh penutur yang kurang berpendidikan dan tidak terpelajar. Misalnya variasi bahasa yang digunakan di tengah pasar. d.Slang adalah variasi bahasa yang bercirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah. Dipakai oleh sekelompok sosial untuk berkomunikasi “di dalam rahasia”. e.Kolokial adalah bahasa percakapan bukan bahasa tulis. f.Jargon merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial atau kelompok pekerja tertentu yang tidak dimengerti oleh kelompok lain, tetapi ungkapan-ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia. g.Argot adalah variasi bahasa yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya pencuri menggunakan kata kacamata yang berarti polisi. h.Ken adalah sosial tertentu yang bernada “memelas” dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya bahasa pengemis. 2. Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian/Penggunaan Variasi bahasa dari segi penggunaannya disebut juga variasi berkenaan dengan fungsinya/fungsiolek, ragam, atau register. Misalnya bidang militer, jurnalistik, dan keilmuan lainnya. Perbedaannya terletak pada kosa katanya. Ragam bahasa militer dikenal dengan cirinya yang ringkas dan bersifat tegas. Ragam bahasa jurnalistik bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Ragam bahasa ilmiah dikenal dengan cirinya yang lugas, jelas, dan bebas di keambiguan, metafora, dan idiom. Register adalah satu ragam tertentu yang digunakan untuk maksud tertentu, sebagai kebalikan dari dialek sosial atau regional. Pembicaraan register biasanya dikaitkan dengan masalah dialek, register berhubungan dengan masalah bahasa yang digunakan untuk kegiatan apa. Dengan kata lain, register dapat dibatasi lebih sempit dengan acuan pada pokok ujaran atau pokok pembicaraan 3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan Berdasarkan tingkat keformalannya variasi bahasa dibagi menjadi lima, yaitu ragam beku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (kasual), dan ragam akrab (intimete). a.Ragam beku adalah ragam yang paling formal. Misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah di masjid, tata cara pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akte notaris, dan surat-surat keputusan. b.Ragam resmi atau formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dinas, bahan pelajaran, dan diskusi dalam ruang kuliah. c.Ragam usaha atau konsultatif adalah ragam bahasa yang paling operasional. Wujudnya berada di antara ragam formal dan ragam santai. d.Ragam santai atau ragam kasual adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi. Banyak menggunakan allegro, yakni bentuk kata yang dipendekkan. Kosakatanya banyak dipenuhi unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah. Demikian juga dengan morfologi dan sintaksisnya. e.Ragam akrab atau intimete adalah variasi bahasa yang biasa digunakanoleh penutur yang hubungannya sudah akrab. 4. Variasi Bahasa dari Segi Sarana Variasi bahasa dari segi sarana yang digunakan, ragam bahasa terdiri atas dua bagian, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan. Ragam bahasa lisan disampaikan secara lisan dan dibantu oleh unsur-unsur suprasegmental, sedang ragam bahasa tulisan, unsur suprasegmental tidak ada. Pengganti unsur suprasegmental dalam bahasa tulis adalah dengan menuliskan unsut tersebut dalam simbol atau tanda baca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar