Rabu, 21 Oktober 2020

Terima Kasih Corona 1 
(Makhluk tak Kasat Mata) 
Oleh : Ranem 

Terima kasih, Corona 
Siapa pun engkau 
Tak kutahu pria atau wanita 
Tak kutahu wujud tampak oleh mata
Kau telah membuka mata 
Tak hanya sepasang mata 
Tak hanya mata satu kota 
Tak hanya mata satu negara 
Namun mata sedunia 

Terima kasih, Corona 
Mataku tak hanya terbuka 
Kini mataku terpesona 
Kini mataku terpedaya 
Kini mataku percaya 

Terima kasih, Corona 
Meski tak nyata di pelupuk mata
Jejakmu terasa nyata 
Membumi membahana 
Bercengkerama dengan manusia 
Di segala usia 

Terima kasih corona 
Hadirmu membawa perubahan baru 
Pada tatanan hidup baru 
Meski tak semua setuju 
Akan keberadaanmu nan samar semu

Selasa, 06 Januari 2015

BAHASA, DIALEK, DAN VARIASI

RINGKASA BAHASA, DIALEK, DAN VARIASI 1.Bahasa Pada hakekatnya bahasa adalah sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, prodiktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa itu dibentuk oleh komponen-komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Namun sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis, juga bersifat sistemis. Dengan sistematis maksudnya, bahasa itu tersusun menurut pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Sedangkan sistemis artinya sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsitem leksikon. Sistem lambang yang dibicarakan di atas adalah berupa lambang dalam bentuk bunyi, makna, dan konsep. Lambang bunyi bahasa bersifat arbitrer, artinya hubungan antara lambang dan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang-lambang tersebut mengonsepi makna tertentu. Lambang juga bersifat konvensional, artinya setiap penutur bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan. Bahasa bersifat produktif. Dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran-ujaran yang hampir tidak terbatas. Bahasa bersifat dinamis, maksudnya selalu berubah-ubah sesuai kurun waktu dan kejadian-kejadian pada waktu itu. Bahasa bersifat beragam artinya jumlah pengguna bahasa sangat heterogen. Bahasa bersita manusiawi artinya bahasa sebagai alat komunikasi yang verbal hanya dimiliki oleh manusia. Dalam konsep sosiolinguistik, bahasa adalah alat, berfungsi untuk menyampaikan pikiran, lebih luasnya (Fisman: 1973) fungsi bahasa dapat dilihat dari sudut penutur, pendengar, topik, kode, dan amanat pembicaraan. Dari sudut penutur, bahasa bersifat pribadi, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Dari sudut pendengar, bahasa bersifat rediktif (mengatur tingkah laku pendengar) yaitu si pendengar melakukan kegiatan sesuai dengan yang dimaui si pembicara. Dilihat dari sudut pandang topik ujaran, bahasa sebagai refsensial maksudnya untuk membicarakan objek peristiwa yang terjadi di sekeliling penutur. Bahasa dari kode yang digunakan berfungsi metalinguistik, yakni bahasa digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri, seperti masalah ekonomi, politik, dan sebagainya. Bahasa dari segi amanat, untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan; baik yang sebenarnya atau yang sekadar imajinasi. Komunikasi adalah proses pertukaran informasi antara individu melalui simbol, tanda, atau tingkah laku yang umum. Ada tiga komponen yang harus ada dalam komunikasi yaitu: pihak yang berkomunikasi, informasi yang disampaikan, dan receiver (penerima informasi). Informasi biasanya berupa ide, gagasan, keterangan dan sebagainya. Alat yang digunakan bisa berupa gambar, petunjuk, juga bisa gerak tubuh (kinesik). Dalam komunikasi bahasa, terdapat dua macam komunikasi; komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Sebagai alat komunikasi, bahasa terdiri dari dua aspek yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya semantik (makna, gagasan, ide, konsep). Adapun nonlinguistik mencakup; (1) kualitas ujaran seperti falsetto (suara tinggi), staccato (suara terputus-putus); (2) ujaran supra segmental yaitu tekanan (stres), nada (pitch) dan intonasi, (3) jarak dan gerak-gerik tubuh, (4) rabaan, yang berkenaan dengan indra perasa. Sebagai manusia, tentu kita berbeda dengan hewan dari berbagai aspek, walaupun mempunyai kesamaan yaitu mengeluarkan bunyi. Keistimewaan manusia, antara lain sebagai berikut. 1.Bahasa itu menggunakan jalur vocal auditif. 2.Partisipan dalam komunikasi bahasa dapat saling berkomunikasi. 3.Lambang bahasa itu terjadi umpan balik yang lengkap. 4.lambang-lambang bunyi dalam komunikasi bahasa adalah bermakna atau merujuk pada hal-hal tertentu. 5.Hubungan antara lambang bahasa dan maknanya bukan ditentukan oleh adanya suatu ikatan antara keduanya, tetapi ditentukan oleh suatu persetujuan atau konvensi di antara penutur suatu bahasa. 6.Bahasa sebagai alat komunikasi manusia dapat dipisahkan menjadi unit satuan-satuan, yakni kalimat, kata, morfem, dan fonem. 7.Kepandaian dan kemahiran untuk menguasai aturan dan kebiasaan berbahasa manusia diperoleh dari belajar, bukan melalui gen-gen yang dibawa sejak lahir. 8.Bahasa dapat digunakan untuk menyatakan yang benar atau tidak benar, atau yang tidak bermakna secara logika. 2.Dialek Beberapa pengertian tentang dilaek antara lain: 1.Menurut Aslinda dan Leni (2010:7) Dialek merupakan ciri khas sekelompok individu/masyarakat dalam menggunakan bahasa. Bahasa seseorang atau ciri khas yang dimiliki oleh seorang individu dalam menggunakan bahasa disebut idiolek. Dialek dibedakan atas dua bagian yaitu dialek geografi dan dialek sosial. Dialek geografi adalah persamaan bahasa yang disebabkan oleh letak geografi yang berdekatan sehingga memungkinkan komunikasi yang sering antara penutur-penutur idiolek itu. Dialek sosial adalah pesamaan yang disebabkan oleh kedekatan sosial, yaitu penutur-penutur idiolek itu termasuk dalam satu golongan masyarakat yang sama. 2.Abdul Hamid Mahmood dalam makalahnya menjelaskan dialek sebagai variasi daripada satu bahasa tertentu yang dituturkan oleh sekumpulan penutur dalam satu-satu masyarakat bahasa. Dialek mempunyai bentuk tertentu yang dituturkan dalam kawasan tertentu dan berlainan daripada bentuk bahasa baku, baik dari segi sebutan, tata bahasa ataupun penggunaan kata-kata tertentu. Kelainan tersebut tidaklah begitu besar untuk dianggap sebagai satu bahasa yang lain. 3.Variasi Variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya. Variasi bahasa atau ragam bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan di dalam masyarakat sosial. Chaer dan Agustin (dalan Aslinda dan Leni, 2010:16) membedakan variasi bahasa dapat dilihat dari segi penutur, pemakaian, keformalan, dan sarana. 1.Variasi Bahasa dari Segi Penutur Variasi bahasa dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan variasi bahasa dari sekelompok individu yang jumlahnya relatif dan berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Variasi bahasa yang bersifat individu disebut idealek, sedangkan variasi bahasa dari sekelompok individu disebut dialek. Dialek dibagi dua, yaitu dialek geografis dan dialek sosial atau sosiolek. Dialek geografis adalah dialek berdasarkan wilayah, sedangkan dialek sosial adalah dialek berdasarkan tingkat, status, golongan, dan kelas sosial. Dialek sosial terdiri atas akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argot, dan ken. a.Akrolek adalah variasi bahasa yang dianggap lebih tinggi atau bergengsi daripada variasi sosial lainnya. b.Basilek adalah variasi bahasa yang dianggap kurang bergengsi, bahkan dipandang rendah. Contoh “krama ndeso”. c.Vulgar adalah variasi bahasa yang digunakan oleh penutur yang kurang berpendidikan dan tidak terpelajar. Misalnya variasi bahasa yang digunakan di tengah pasar. d.Slang adalah variasi bahasa yang bercirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah. Dipakai oleh sekelompok sosial untuk berkomunikasi “di dalam rahasia”. e.Kolokial adalah bahasa percakapan bukan bahasa tulis. f.Jargon merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial atau kelompok pekerja tertentu yang tidak dimengerti oleh kelompok lain, tetapi ungkapan-ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia. g.Argot adalah variasi bahasa yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya pencuri menggunakan kata kacamata yang berarti polisi. h.Ken adalah sosial tertentu yang bernada “memelas” dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Misalnya bahasa pengemis. 2. Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian/Penggunaan Variasi bahasa dari segi penggunaannya disebut juga variasi berkenaan dengan fungsinya/fungsiolek, ragam, atau register. Misalnya bidang militer, jurnalistik, dan keilmuan lainnya. Perbedaannya terletak pada kosa katanya. Ragam bahasa militer dikenal dengan cirinya yang ringkas dan bersifat tegas. Ragam bahasa jurnalistik bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Ragam bahasa ilmiah dikenal dengan cirinya yang lugas, jelas, dan bebas di keambiguan, metafora, dan idiom. Register adalah satu ragam tertentu yang digunakan untuk maksud tertentu, sebagai kebalikan dari dialek sosial atau regional. Pembicaraan register biasanya dikaitkan dengan masalah dialek, register berhubungan dengan masalah bahasa yang digunakan untuk kegiatan apa. Dengan kata lain, register dapat dibatasi lebih sempit dengan acuan pada pokok ujaran atau pokok pembicaraan 3. Variasi Bahasa dari Segi Keformalan Berdasarkan tingkat keformalannya variasi bahasa dibagi menjadi lima, yaitu ragam beku (frozen), ragam resmi (formal), ragam usaha (konsultatif), ragam santai (kasual), dan ragam akrab (intimete). a.Ragam beku adalah ragam yang paling formal. Misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah di masjid, tata cara pengambilan sumpah, kitab undang-undang, akte notaris, dan surat-surat keputusan. b.Ragam resmi atau formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dinas, bahan pelajaran, dan diskusi dalam ruang kuliah. c.Ragam usaha atau konsultatif adalah ragam bahasa yang paling operasional. Wujudnya berada di antara ragam formal dan ragam santai. d.Ragam santai atau ragam kasual adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi. Banyak menggunakan allegro, yakni bentuk kata yang dipendekkan. Kosakatanya banyak dipenuhi unsur leksikal dialek dan unsur bahasa daerah. Demikian juga dengan morfologi dan sintaksisnya. e.Ragam akrab atau intimete adalah variasi bahasa yang biasa digunakanoleh penutur yang hubungannya sudah akrab. 4. Variasi Bahasa dari Segi Sarana Variasi bahasa dari segi sarana yang digunakan, ragam bahasa terdiri atas dua bagian, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulisan. Ragam bahasa lisan disampaikan secara lisan dan dibantu oleh unsur-unsur suprasegmental, sedang ragam bahasa tulisan, unsur suprasegmental tidak ada. Pengganti unsur suprasegmental dalam bahasa tulis adalah dengan menuliskan unsut tersebut dalam simbol atau tanda baca.

KEDWIBAHASAAN DAN DIGLOSIA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makhluk hidup berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan media. Salah satu media komunikasi adalah bahasa. Sebagai pengguna bahasa sebagai alat komunikasi, manusia harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi terjadinya komunikasi sehingga proses komunikasi berjalan baik dan tujuan komunikasi tercapai. Dengan demikian pemilihan bahasa sangat menentukan keberhasilan sebuah proses komunikasi. Bahasa dapat didefinisikan sebagai lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 1984:19). Sedangkan Lyons (dalam Aslinda dan Leni, 2010:1), bahwa bahasa adalah most of them hare taken the view that languages are system of symbols, designed, as it were, for the purpose of communications. Dengan demikian bahasa ditandai dengan bunyi dan lambang serta digunakan untuk berkomunikasi. Antara bunyi dan lambang yang digunakan dalam komunikasi, maka keduanya harus dipahami oleh masyarakat yang sedang berkomunikasi. Oleh karena itu bahasa juga bersifat konvensional. Dengan pemahaman yang sama tentang bahasa antarmasyarakat maka hambatan dalam komunikasi dapat dihindari. Sekelompok masyarakat tidak sama dengan sekelompok masyarakat yang lain. Bahkan setiap individu dalam satu kelompok juga memiliki perbedaan. Dengan perbadaan antarindividu dan antarkelompok masyarakat, maka pemilihan bahasa dengan melihat individu atau kelompok masyarakat tertentu sangat penting. Masyarakat perlu memahami masyarakat lain dan bahasa yang digunakan masyarakat tersebut. Kajian ini akan dibahas dalam sosiolinguistik. Sosiolinguistik berasal dari kata sosiologi dan linguistik. Sosiologi menurut Chaer dan Agustin (dalam Aslinda dan Leni, 2010: 6) adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat dan mengenai lembaga-lembaga serta proses sosial yang ada di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah ilmu bahasa atau bidang yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian sosiolinguistik merupakan bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat. Mansoer Pateda mengutip beberapa pendapat tentang sosiolinguistik antara lain pendapat Fishman yang menyatakan sosiolinguistik lazim didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari ciri dari pelbagai variasi bahasa, serta hubungan di antara bahasawan dengan ciri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa. Sedangkan C. Criper dan H.G. Widdowson mengatakan sosiolinguistik adalah studi bahasa dalam pelaksanaannya yang bermaksud mempelajari bagaimana konvensi bahasa berhubungan dengan aspek-aspek lain dari tingkah laku sosial (1987:2) Di dalam masyarakat, pengguna bahasa disebut masyarakat bahasa. Masyarakat bahasa sering berkomunikasi dengan menggunakan lebih dari satu jenis bahasa (dua bahasa atau lebih). Walaupun menggunakan banyak bahasa, anggota masyarakat bahasa mempunyai bahasa pertama kemudian mempelajari dan menggunakan bahasa kedua, bahasa ketiga, dan seterusnya. 1.2 Rumusan Masalah Masyarakat bahasa yang menggunakan banyak bahasa dan memiliki satu bahasa pertama secara umum memunculkan istilah kedwibahasaan dan diglosia. Rumusan masalah dalam makalah ini adalah “ Apa yang dimaksud kedwibahasaan dan diglosia serta bagaimana mereka berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari?” 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui pengguna bahasa yang dikategorikan sebagai dwibahasawan dan diglosia serta penerapannya dalam berkomunikasi sehari-hari.   BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kedwibahasaan Kedwibahasaan dapat diurai menjadi konfiks ke-an dan frasa dwi bahasa. Dwi bahasa mengandung arti dua bahasa. Sedangkan konfiks ke-an membentuk kata keadaan. Pengertian kedwibahasaan menurut Harimurti Kridalaksana adalah penggunaan dua bahasa atau lebih oleh seseorang atau oleh suatu masyarakat. Kedwibahasaan disebut juga bilingualisme (1984:29). Selanjutnya Harimurti menguraikan kedwibahasaan/bilingualisme dalam tiga macam yaitu (1) bilingualisme koordinat (co-ordinate bilingualism) yaitu dengan bilingualisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang terpisah, (2) bilingualisme majemuk (compound bilingualism) yaitu bilingualisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang terpadu, (3) bilingualisme subordinat ( sub-ordinate bilingualism) yaitu bilingulisme dengan dua sistem bahasa atau lebih yang terpisah tetapi masih terdengar proses penterjemahan. Menurut Weinreich (dalam Aslinda dan Leni, 2010:23) kedwibahasaan adalah the pratice of alternately using two languages (kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian). Sedangkan menurut Blommfield, kedwibahasaan adalah native like control of two languages (penguasaan yang sama baiknya terhadap dua bahasa). Sementara menutur Mackey kedwibahasaan adalah the alternative use of two of more languages by the some individual (kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang). Kedwibahasaan merupakan ciri seseorang atau kelompok masyarakat. Dengan mengetahui ciri penggunaan bahasa oleh seseorang atau kelompok masyarakat, kita akan mengetahui status sosial mereka. Kontak bahasa akan terjadi pada masyarakat pemakai bahasa atau terjadi dalam situasi kemasyarakatan tempat seseorang mempelajari unsur-unsur sistem bahasanya sendiri. Ciri utama kontak bahasa adalah terdapatnya kedwibahasaan/bilingualisme. Kedwibahasaan lebih cenderung pada gelaja tutur (parole) sedangkan kontak bahasa lebih cenderung pada gejala bahasa (langue). Pada prinsipnya, langue adalah sumber dari parole, maka dengan sendirinya kontak bahasa akan tampak dalam kedwibahasaan, Dengan kata lain, kedwibahasaan terjadi karena adanya kontak bahasa (Aslinda dan Leni, 2010:25). Dwibahasawan adalah orang menggunakan dua bahasa atau lebih untuk berkomunikasi. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang menggunakan dua bahasa atau lebih dalam berkomunikasi. Dengan demikian maasyarakat Indonesia disebut dwibahasawan (bilingual). Penggunaan dua bahasa atau lebih itu dilakukan secara bergantian. Tingkat penguasaan bahasa dwibahasawan yang satu tidak sama dengan dwibahasawan yang lain, tergantung pada setiap individu yang mempergunakannya. Perubahan bahasa terjadi pada saat kontak bahasa. Seorang dwibahasawan dapat menggunakan bahasa pertama kemudian beralih ke bahasa kedua atau sebaliknya. Misalnya seorang dwibahasawan semula menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu, di tengah proses komunikasi ia beralih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. 2.2 Diglosia Diglosia dalam Kamus Linguistik didefinisikan sebagai situasi bahasa dengan pembagian fungsional atau variasi-variasi bahasa yang ada. Satu variasi diberi status “tinggi” dan dipakai untuk penggunaan resmi atau penggunaan publik dan mempunyai ciri-ciri yang lebih kompleks dan konservatif, variasi lain mempunyai status “rendah” dan dipergunkan untuk komunikasi tak resmi dan strukturnya disesuaikan dengan saluran komunikasi lisan. (Harimurti, 1984:41). Sementara Furgeson dalam Aslinda dan Leni (2010:27) mengungkapkan konsep diglosia adalah para penutur suatu bahasa memakai suatu ragam tertentu dalam situasi tertentu dan memakai ragam lain dalam situasi lain, kemudian memakai suatu situasi yang di dalamnya ada dua ragam dari suatu bahasa hidup berdampingan dengan peran masing-masing dalam masyarakat. Lebih lanjut, Furgeson menjelaskan diglosia itu terdiri atas sembilan segi , yaitu sebagai berikut. 1. Fungsi 2. Prestise 3. Warisan tradisi tulis-menulis 4. Pemerolehan bahasa 5. Pembakuan 6. Stabilitas 7. Tata bahasa 8. Kosa kata 9. Fonologi Konsep diglosia Ferguson, kemudian dikembangkan oleh Fishman yang mengatakan, perbedaan antara dwibahasawan dan diglosia yaitu kedwibahasaan (bilingualime) mengacu pada penguasaan atas ragan H (ragam tinggi) dan ragam L (ragam rendah) yang ada dalam masyarakat sedangkan diglosia mengacu pada persebaran (distribusi) fungsi H dan L dalam ranah-ranah tertentu. Tidak selamanya kedwibahasaan itu dibarengi dengan diglosia, sebagaimana tampak dalam matriks berikut ini. +, 1. Diglossia and bilingualism -, 2. Diglossia without bilingualism -, 3. Bilingualism without diglossia -, 4. Neither diglossia nor bilingualis Fisman dalam Aslinda dan Leni (2010:28) Selanjutnya Aslinda dan Leni memberi penjelasan bahwa matriks ini dibaca sebagai berikut. 1. Diglosia dan bilingualisme Adanya dua bentuk bahasa dalam masyarakat. Distribusi yang stabil atau tetap dari variasi-variasi bahasa sesuai funsi sosialnya. 2. Diglosia tanpa bilingualisme Dalam masyarakat bahasa , terdapat perbedaan fungsional yang ketat dari ragam-ragam bahasa sesuai dengan H dan L. Dalam kasus ini, adalah perilaku antarkerlompok dari kekuatan yang berkuasa (ragam H), yang bukan hanya hidup jauh dari orang-orang biasa, melainkan sengaja membedakan bahasa mereka dari banyak orang. Kasus ini sering ditemukan dalam masyarakat yang pernah dijajah. 3. Bilingualisme tanpa diglosia Diglosia ditandai dengam distribusi fungsi sosial yang bervariasi sesuai dengan suasana individu ataupun sosial. Jadi bilingualism bervariasi sesuai dengan situasi, peran, topik, dan tujuan komunikasi. Dengan demikian, dalam masyarakat banyak ditemukankasus bilingualisme tanpa diglosia. Situasi seperti ini tidaklah stabil, tetapi brgantung pada perubahan sebagai akibat adanya korelasi dengan parameter-parameter social yang sangat variasi, misalnya pemukiman kembali dan perpindahan pekerjaan. 4. Tanpa bilingualisme dan diglosia Jenis ini terdapat pada masyarakat yang terisolasi. Masyarakat yang tidak berhubungan dengan dunia luar. Menurut Fisman, jenis ini jarang ditemukan   BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Kedwibahasaan (bilingualisme) adalan situasi di mana seorang pengguna bahasa berkomunikasi dengan menggunakan dua bahasa atau lebih. Bahasa yang digunakan adalan bahasa pertama dan bahasa kedua. Penggunaan dua bahasa disesuaikan dengan lawan bicara sehingga keduanya dapat memahami maksud komunikasi tetrsebut. Dwibahasawan (bilingual) adalah orang yang menggunakan dua bahasa atau lebih dalam berkomunikasi. Seorang dwibahasawan dapat menggunakan bahasa pertama kemudia beralih ke bahasa kedua atau sebaliknya. Kondisi ini disebut diglosia. 3.2 Saran Situasi komunikasi memicu seseorang untuk berlaku sebagai dwibahasawan. Gunakan bahasa sesuai situasi dan kondisi sehingga proses komunikasi dapat berjalan dengan baik dan tujuan komunikasi tercapai. Dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar kita akan mampu menempatkan diri kita (penutur) dan lawan bicara (petutur) sesuai status sosialnya sehingga keharmonisan komunikasi dapat tercipta.   DAFTAR PUSTAKA Aslinda dan Leni Syafyahya. 2010. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Reifika Aditama Kridalaksana, Harimurti. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pateda, Mansoer. Sosiolinguistik. Bandung:Angkasa Wardhaugh, Ronald. 1988. An Introduction to Sociolinguitics. New York: Katerprint Co.Ltd,Oxford

KURIKULUM

ATURAN JELAS TAPI BINGUNG MENGAMBIL KEPUTUSAN PERMENDIKBUD yang mengantur pemberlakuan Kurikulum sudah jelas. Sekolah piloting yang sudah melaksanakan tiga semester tetap melaksanakan Kurikulum 2013 sedangkan sekolah yang baru satu semester melaksanakan Kurikulum 2013, kembali ke Kurikulum 2006 di smester gnap Tahun Pelajaran 2014/2015. Ternyata Permen tersebut justru mengundang kebingungan di beberapa sekolah. Sebagian sekolah di wilayah tertentu diintruktikan untuk tetap menggunakan Kurikulum 2013 secara keseluruhan. Di beberapa sekolah lain walaupun baru baru satu semester juga ingin menggunakan dengan berbagai alasan, salah satunya pemenuhan jam mengajar. Sementara justru ada sekolah yang sudah tiga semester yang melaksanakan Kurikulum 2013 ingin kembali ke Kurikulum 2013 karena faktor sarana dan guru yang belum siap. Ketidaksiapan guru paling mendasar sepertinya pada proses penilaian Kurikulum 2013 yang njlimet dan bertele-tele. Mudahan kondisi heterogen di berbagai sekolah sehubungan dengan penerapan Kurikulum di sekolah segera mendapat solusi sehingga siswa tidak menjadi korban kebijakan. Intinya proses pembelajaran segera terlaksana apapun kurikulumnya.